Waktu itu beberapa pemuda lebih tepatnya pemuda bersetatus mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berunding perihal penerbitan.
Pertanyaan yang cukup penting waktu itu adalah kenapa Yogyakarta banyak terdapat penerbitan buku, baik yang segede gajah maupun penerbitan berkaliber gurem? Jawaban yang muncul beberapa versi, yang saya masih ingat bahwa iklim (suasana- red) sebagai kota pelajar nampaknnya menjadi salah satu istrumen penting bagi kelahiran penerbitan. Dimana banyak penulis-penulis segar yang siap membombardir isu-isu terhangat sampai wacana-wacan kuno yang sengaja dihangatkan dan para pembaca yang haus akan pengetahuan dan nuansa intelektual macam apapun.
Lantas bagaiman kalu melihat kondisi di Solo? Wah, musti mikir agak panjang, soalnya meskipun Solo dan Jogja secara geografis berdampingan namun image kota pelajar masih jauh dari muka Solo. Meskipun banyak juga sekolah tinggi jagoan semisal UNS, nampaknnya geliat penerbitan buku gurem tidak terlihat di Solo. Aneh juga kenapa gurem di Jogja bisa kelihatan? Jawabannya karena saking banyaknya guremnnya.
kembali membahas lahirnya Jo, yaitu sebagai unjuk eksistensi kehidupan mahasiswa khususnya dalam ranah Intelektualitas di Solo. Jo didirikan oleh beberapa anggota tua Lembaga Pers Mahasiswa Pabelan UMS (saat itu tahun 2006 bulan Mei) pada suatu malam yang berbahagian melalui suatu pertemuan.
Berikut nama-nama pendiri konseptual Jo, yaitu; Pujoko, AriF Gianto, Taufan Mubaroq, Fitrah Hamdani, Rosit Chaniago, Salamet Widodo, Haris Sunarmo, Widi Purwanto, dan Suut Amdani. Namum dalam perjalanannya sampai pada penerbitan produk pertama berjudul “TANDA PEMBUNUH Kapitalisme di balik Semiotika Media” pada Januari 2008, Anggota Jo, tidak komplit lagi.
Sampai saat ini Jo, tinggal dikelola oleh 2 orang pendirinya yaitu Fitrah Hamdani dan Suut Amdani, duwet ini lah yang sampai sekarang masih bersikeras untuk menjaga keberlangsungan Jo.
Pada terbitan produk pertama ini kami berdua mengapresiasikan teruntuk semua pendiri Jo.
Hormat saya, Suut Amdani
Salam Perjuangan,
Dalam mengawali langkah pencerahan, tentu melewati lorong kegelapan. Pasti akan jalan keluar meraih cahaya kehidupan.
Hanya sejauh mana nalar dan iman bertahan dalam perjuangan…..
Dari jiwa dan doaku sepenuhnya saya dukung.
Moga sukses.